Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2008

Pengetahuan


Sapi Sadar Arah Angin .....

Beberapa jenis hewan mengetahui perbedaan arah angin berdasarkan arah medan magnet Bumi. Burung-burung migran, misalnya, diketahui menggunakan kemampuan tersebut untuk memilih arah terbang yang tepat. Nah, kalau sapi buat apa ya?Sebuah kelompok peneliti dari Jerman dan Ceko menemukan bahwa hampir semua sapi di seluruh dunia mengatur posisi tubuh memanjang di arah utara-selatan saat merumput. Uniknya, posisi utara-selatan tersebut berlaku di bagian negara manapun. Hal tersebut diketahui dari hasil pemantauan menggunakan satelit. Ribuan sapi berhasil dipotret dari berbagai lokasi padang rumput di seluruh dunia.
"Sapi-sapi yang ada di padang rumput di semua wilayah, sekitar dua pertiganya utara-selatan," ujar Tina Hincley, pemilik peternakan sapi perah di Cambridge, Wisconson, AS saat melihat foto-foto satelit tersebut.
Persentase tersebut termasuk deviasi tinggi untuk pengambilan secara acak. Dari 8510 ternak yang terekam di 308 lokasi, terdapat 60-70 persen yang orientasi tubuhnya utara-selatan.
"Medan magnet Bumi merupakan faktornya," demikian kesimpulan para peneliti yang dipimpin Hynek Burda dan Sabine Begall dari fakultas Biologi Universitas Duisburg-Essen, Jerman. penelitian tersebut dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.
Utara-selatan mungkin posisi yang paling nyaman bagi sapi. Sapi tidak suka panas karena suhu tubuhnya sudah mencapai 40 derajat Celcius dengan kulit yang tebal. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pada situasi berangin kencang, sapi menghadap ke arah sumber angin mengalir.
Namun, sejauh ini kecenderungan tersebut baru sebatas korelasi saja. Untuk memastikan apakah sapi memiliki kepekaan terhadap medan magnet Bumi harus dilakukan percobaan secara langsung.
Penelitian mengenai hal tersebut semakain menarik karena kecenderungannya tidak hanya pada sapi melainkan rusa di Ceko. Para peneliti kini tengah mempertimbangkan penggunaan Google Earth untuk mencari apakah kecenderungan yang sama berlaku juga pada ternak lainnya, seperti kambing dan kuda.

Selengkapnya...

Pengetahuan

Mengapa kata "Mama" Menjadi Kalimat Pertama Yang dikatakan Bayi???


Sebagian besar bayi umumnya mengucapkan "mama" atau sejenisnya sebagai kata pertama yang dikenalnya. Kata tersebut ternyata memang struktur kata yang paling sederhana dan paling mudah dikenali bayi. Apa kuncinya?
Kuncinya pada pengulangan suku kata. Otak bayi merespon pengulangan tersebut dengan sangat baik. Itulah kesimpulan Judit Gervain, peneliti dari University British-Columbia, yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.
Kesimpulan tersebut diambil setelah Gervain melakukan pemindaian terhadap 22 bayi yang baru berusia 2-3 hari. Kepada bayi-bayi tersebut diperdengarkan sejumlah kata yang mengandung perulangan, seperti mubaba dan penana dan yang tidak seperti mibage dan penaku.
Saat kata yang mengandung bentuk perulangan diperdengarkan, otak bayi di bagian temporal dan frontal kiri bereaksi. Sebaliknya, saat kata yang tidak mengandung perulangan diberikan, tidak ada bagian otak yang memberikan respon dominan.
"Hal tersebut mungkin yang membuat banyak penutur berbagai bahasa tanpa sengaja memiliki daftar kata berulang untuk anak-anaknya," ujar Gervain. Hasil penelitiannya juga sesuai dengan fakta bahwa pusat bahasa pada orang dewasa yang tidak kidal berada di otak kiri.
Jadi, sudah jelas mengapa kata "mama" atau "papa", "tata", "dada", dan sejenisnya paling mudah untuk melatih vokal bayi. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa kemampuan untuk mengenali kata yang mengandung perulangan merupakan sifat dasar otak manusia. Sifat inilah yang membuat dapat belajar bahasa ibu secara sistematis dan efisien.


Selengkapnya...

Kamis, 18 September 2008

TURUN DAN TERSEBARNYA AL-QURAN

Surat-surat dan ayat-ayat Al-Quran diturunkan secara ber­tahap kepada Nabi s.a.w, selama dua puluh tiga tahun masa kenabiannya. Hal ini dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Quran sendiri.

Allah berfirman:


"Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan secara berangsur­angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. " (QS 17:106)


Tidak diragukan lagi bahwa di dalam Al-Quran ada nasikh dan mansukh. Juga ada ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa yang tidak mungkin terjadi pada waktu yang sama untuk memungkinkan ayat-ayat diturunkan sekaligus untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa itu.


Ayat-ayat dan surat-surat Al-Quran tidak diturunkan me­nurut urutan yang kita baca dalam Al-Quran sekarang ini, yakni pertama surat al-Fatihah, kemudian al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa' dan seterusnya. Karena, di samping ada bukti-bukti sejarah tentang hal itu, kandungan ayat-ayat Al-Quran sendiri memberi kesaksian tentang hal tersebut. Sebab sebagian surat dan ayat yang berkena­an dengan masalah-masalah yang terjadi pada awal masa kenabian, ternyata terletak di bagian akhir Al-Quran, seperti surat al-'Alaq dan al-Qalam. Dan sebagian lain, yang berkenaan dengan masalah­ masalah pada masa sesudah Hijrah dan akhir masa Nabi s.a.w., ternyata terletak di awal Al-Quran, seperti surat-surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa', al-Anfal dan at-Taubah.


Sesungguhnya perbedaan antara kandungan surat-surat dan ayat-ayat Al-Quran, dan kaitannya yang erat dengan peristiwa­peristiwa yang terjadi selama dakwah Nabi, mengharuskan kita untuk mengatakan bahwa Al-Quran diturunkan dalam waktu dua puluh tiga tahun, yakni masa dakwah Nabi. Sebagai contoh, ayat­ayat yang mengajak kaum musyrikin untuk menerima Islam dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala turun pada masa sebelum Nabi hijrah dari Makkah, yang pada masa ini Nabi meng­hadapi banyak cobaan dan tantangan dari para penyembah ber­hala. Sedangkan ayat-ayat tentang perang dan hukum diturunkan di Madinah, yang pada masa ini Islam mulai tersebar dan kota ini menjadi pusat pemerintahan Islam yang besar.


Pembahasan tadi menunjukkan bahwa ayat-ayat dan surat­surat Al-Quran terbagi menjadi beberapa bagian menurut tempat turun, waktu, sebab dan kondisinya. Yaitu:

  1. Sebagian surat dan ayat Al-Quran itu berstatus Makkiah, dan sebagian yang lain Madaniah. Yang diturunkan sebelum Nabi s.a.w. hijrah dari Makkah dinamakan Makkiah. Ini merupakan bagian terbesar dari surat-surat Al-Quran, khususnya surat-surat yang pendek. Sedangkan yang diturunkan sesudah Nabi s.a.w. hijrah disebut Madaniah, walaupun turunnya di luar Madinah atau di Makkah.

  2. Sebagian surat dan ayat Al-Quran diturunkan ketika Nabi sedang bepergian, dan sebagian yang lain ketika beliau tidak dalam bepergian. Surat-surat dan ayat-ayat Al-Quran terbagi pula men­jadi surat dan ayat yang turun di waktu malam dan siang, yang turun di waktu perang dan damai, yang turun di bumi dan di langit, yang turun ketika Nabi berada di tengah-tengah orang banyak dan ketika Nabi sendirian. Kami akan membicarakan manfaat mengetahui bagian-bagian ini dalam pembahasan yang akan datang tentang sebab-sebab turun ayat (asbabun nuzul).

  3. Sebagian surat diturunkan berulang-ulang, seperti surat al­Fatihah yang diturunkan di tilakkah dan Madinah. Begitu pula, sebagian ayat Al-Quran diturunkan beberapa kali.


    yang diulang sebanyak tiga puluh kali dalam surat ar-Rahman,


    yang diulang sebanyak delapan kali dalam surat as-Syu'ara. Dan sebagian ayat Al-Quran diulang-ulang dalam lebih dari satu surat,


    yang diulang-ulang dalam enam surat yang berbeda.

    Terdapat pula suatu kalimat tertentu yang merupakan ayat di satu tempat, dan di tempat lain merupakan bagian dari ayat,

Kalimat ini, dalam awal surat Ali Imran, merupakan ayat, sedang­kan dalam surat al-Baqarah, merupakan bagian dari ayat Kursi. Namun demikian, sebagian besar surat dan ayat Al-Quran diturunkan sekali saja. Hal itu karena adanya perbedaan konteks. Dalam satu tempat dibutuhkan pengulangan kalimat untuk menarik perhatian, umpamanya, dan di tempat lain tidak dibutuhkan. Perbedaan ini menyerupai perbedaan antara panjang dan pendeknya surat-surat dan ayat-ayat. Di samping surat al-Kautsar sebagai surat terpendek, kita menjumpai surat al-Baqarah sebagai surat paling panjang. Begitu pula kita melihat ayat
terpendek, di samping ayat tentang utang-piutang, yakni surat al-Baqarah ayat 282, sebagai ayat terpanjang dalam Al-Quran. Semua perbedaan ini muncul karena adanya tuntutan dalam mem­berikan penjelasan. Barangkali kita juga menemukan hal itu dalam dua ayat yang bersambung, seperti ayat ke-20 dan ke-21 surat al­Muddatstsir, umpamanya. Ayat pertama terdiri atas satu kalimat, dan yang kedua terdiri atas lebih dari lima belas kalimat. Perbedaan-perbedaan lain tampak dalam hal penuturan secara panjang lebar (ithnab) dan penuturan secara ringkas (ijaz) ketika kita membandingkan surat-surat al-Fajr dan al-Lail dengan surat­surat al-Baqarah dan al-Maidah. Pada umumnya, surat-surat Makkiah menggunakan cara penuturan yang ringkas, sedangkan surat-surat Madaniah pada umumnya menggunakan cara penuturan yang panjang lebar.

Berdasarkan hal ini, maka lima ayat pertama dari al-'Alaq merupakan yang pertama diturunkan kepada Nabi s.a.w., dan yang terakhir diturunkan adalah surat al-Baqarah ayat 281





Selengkapnya...